“Awal”

#Cerita_KKN

Allah berkehendak atas segala hal bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Wajib bagi setiap muslim untuk mengimani hal tersebut. Manusia memang berhak merencanakan, tapi Allah lah yang berhak memutuskan. Namun, kadangkala sesuatu yang tidak pernah terbersit dan terencanakan tiba-tiba menimpa kita. Sehingga, mau tidak mau kita harus merencanakannnya agar bisa berjalan sesuai dengan harapan. Itulah yang dinamakan sebuah takdir dari-Nya. Apa yang Dia takdirkan adalah apa yang Dia ingin ajarkan kepada kita, sebuah pengalaman dan pelajaran yang tentu memiliki manfaat dan berbuah hikmah.

Seperti yang terjadi saat ini, sebuah rencana yang tidak pernah terbayangkan seumur hidup; bisa KKN di luar negeri. Ya, walau hanya seberang, alias negara tetangga, tapi tetap ada suatu takjub atas takdir ini. Menurut cerita, tim KKN ini adalah tim KKN pertama di Indonesia yang ke luar negeri. Rasa bangga, rasa cemas, dan rasa ngambang itu menyatu. Tidak heran pula orang-orang melontarkan pro juga kontra. Pihak pro mengatakan bahwa keputusan KKN ke luar negeri adalah sebuah prestasi atas keberanian kami untuk mengabdi hingga ke luar negeri. Mereka memberikan ungkapan-ungkapan takjub, bangga, dan sekaligus memberi motivasi, contohnya: “Wuih,,, keren banget sampai ke Sabah. Semangat ya. Selamat berjuang”, atau “Wuih, yang dibilang istimewa sama pak Rektor. Cie,,, semoga lancar ya pengabdiannya di sana. Pasti kalian bisa. Kampus kita kan udah world class university”. Di samping banyaknya orang-orang di pihak pro, namun di pihak kontra juga lebih banyak. Pihak kontra banyak memberikan kritikan, contohnya: “Ngapain jauh-jauh ke Malaysia, wong di Indonesia aja butuh pengabdian kalian!”, “Ngapain sih sampai ke sana? Gaya-gaya an lu!”, “Ke Malaysia, mau KKN atau jalan-jalan?” dan lain-lain.

Dengan berbagai pertimbangan yang dipikirkan, maka keputusan untuk KKN di Malaysia tersebut telah bulat. Satu kekuatan dengan satu prinsip tanpa embel-embel, yakni “mengabdi”. Jika kata “mengabdi” sudah menggerogoji jiwa, maka tidak perlu diambil pusing hal-hal yang membuat takut. Toh, niatnya baik. InsyaAllah akan baik pula proses dan hasilnya. Semoga KKN ini bisa sustainable.

“Jadilah pembelajar dan fasilitator”. Ungkap Ravik Karsidi, Rektor UNS.

“Surau”

#Cerita_KKN

Kita tidak pernah menyangka. Kita selalu merasa ‘cukup’ berada di sebuah tempat dimana kita bisa hidup dengan anteng. Kesan secara umum adalah ibarat katak dalam tempurung. Namun, ketika kita berpindah atau sekedar melancong ke sebuah tempat, kadangkala rasa ‘cukup’ tersebut mulai terusik di dalam jiwa. Artinya, kenyamanan itu mulai goyah dan tidak jarang terbersit keinginan melakukan sesuatu yang bisa berpengaruh. Katakanlah seorang perantau. Ketika nyaman berada di kampung halaman bertahun-tahun, kemudian kenyamanannya terusik dengan berbagai masalah yang ada di negeri rantau. Maka, bisa jadi dia akan balik lagi ke kampung halaman dengan beragam romansa kenyamanan yang dirasakan, atau justru memilih menantang segala masalah yang ada di tanah rantau dengan melalukan perubahan, minimal bertahan.

Salah satu kenyamanan yang banyak dirasakan, terutama di Indonesia adalah kenyamanan beribadah. Bagi seorang muslim, salah satu indikator dari kenyamanan dalam beribadah adalah adanya masjid atau surau di dekat tempat tinggalnya yang setiap waktu sholat diperdengarkannya adzan dan dilaksanakannya sholat berjama’ah. Begitu pula bagi seorang kristiani, salah satu indkator kenyamanan dalam beribadah adalah adanya gereja di dekat tempat tinggalnya serta bisa melakukan kebaktian. Dan begitu juga dengan ajaran agama lainnya, pasti menginginkan adanya tempat ibadah di sekitarnya. Oke, baiklah kita masuk pada pembahasan ya. Tentang adanya tempat ibadah sebagai salah satu indikator kenyamanan umat beragama.

Di dalam ajaran Islam diterangkan bahwa orang yang hatinya terpaut dengan masjid adalah orang yang akan dinaungi oleh Allah SWT pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya (baca: Hadits Bukhari dan Muslim). Sebagai seorang muslim, maka aku patut memahami isi hadits shohih tersebut. Masjid adalah rumah Allah yang berada di atas muka bumi. Masjid memiliki kedudukan yang agung di mata kaum muslimin karena menjadi tempat bersatu ketika shalat berjama’ah dan kegiatan ibadah lainnya, seperti kegiatan TPA, kajian ibu-ibu, dan kajian bapak-bapak. Oleh sebab itu, sejak kecil pun, aku diajarkan oleh keluargaku untuk memautkan hatiku pada masjid. Sampai sekarang dan sampai akhir hayat hidupku.

Hei, semalam aku bermimpi mendirikan sebuah surau di daerah tempat KKN ku, di Biah. Aku memimpikan sesuatu hal yang kelihatanannya sepele; hanya ingin mendirikan sebuah tempat ibadah yang kecil. Ada sebuah pertanyaan, memangnya tidak ada tempat ibadah di sana? Jawabku, tidak ada. Barangkali bisa saja aku tidak mendirikan surau, tetapi lebih besar dari itu, yakni mendirikan masjid. Tapi, yang jelas mimpiku adalah mendirikan surau. Surau hanya lebih kecil daripada masjid. Toh, tidak semudah yang dibayangkan jika ingin mendirikan masjid di tempat yang notabene orang nonmuslim ini.

“Kesuksesan berawal dari mimpi. Untuk mewujudkannya, maka kau harus bangun dulu dari mimpimu” Kata sahabat karib menasihatiku. Mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia, maka berlarilah tanpa lelah hingga kau meraihnya, begitu bunyi lirik lagu yang dinyanyikan band Nidji. Huft. Apa iya aku bisa mewujudkannya?

Kondisi tak semudah yang dibayangkan dan dikira-kirakan. Walau hanya mendirikan sebuah tempat ibadah yang kecil, tapi aku harus berpikir luas. Ya, namanya juga mahasiswa, kurasa itu wajar saja. Loh, bawa-bawa embel mahasiswa. Ya iya lah, kan lagi KKN; Kuliah Kerja Nyata men. Oke, jangan OOT! Berdasarkan penuturan guru lokal di CLC (Community Learning Center) Biah, Keningau, 50% siswa adalah muslim dan 50% siswa adalah kristiani. Sedangkan, pemilik tanah yang berhektar-hektar termasuk di dalamnya terdapat CLC Biah tersebut adalah seorang nonmuslim. Di sini, aku tidak mempermasalahkan banyaknya gereja yang didirikan di daerah ini oleh kaum kristiani. Tidak. Banyaknya gereja yang didirikan adalah hak mereka; kaum kristiani. Atas dasar human rights itu sendiri, aku berani bermimpi untuk mendirikan surau; tempat ibadah umat Islam. Itu juga hak diriku dan umat Islam lainnya yang ada di daerah sini.

Sayang, aku masih berlayar di lautan mimpi. Belum bangun. Aku harus bangun bukan? Tidak apa, sementara aku bisa memanfaatkan waktu di lautan mimpi untuk merencanakan langkah-langkah yang bisa kulakukan ketika aku telah berhasil bangun. Dalam mimpiku, aku melihat sebuah surau yang didirikan bersama guru-guru lokal, khususnya guru yang beragama Islam di CLC Biah ini. Aku bermimpi kegiatan TPA diadakan di tempat ini. Berbondong-bondong setiap sore hari anak-anak berlarian membawa iqra’ dan Al-Qur’an menuju ke tempat ibadah baru; Surau. Lalu, anak-anak SMP di samping para guru muslim dijadikan sebagai kader guru TPA; mengajarkan iqra’, mengajarkan Islam dengan benar. Guru-guru Islam bisa memanfaatkan surau tersebut untuk dijadikan tempat praktek wudlu dan sholat serta adzan. Eh, mendengarkan adanya adzan saja, hati sudah bahagia bukan? ahhh… selamat pagi, pemimpi 😀

Hari Pertama

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah: 183)

Tidak terasa sudah memasuki bulan Ramadhan kembali. Pada 1436 Hijriyah ini, setiap umat muslim tentunya berharap menjadi lebih baik lagi. Untuk menjadi muslim yang lebih baik, kita diwajibkan menjalankan puasa di bulan Ramadhan sebagai perwujudan pemenuhan rukun islam yang ketiga. Dengan memenuhi rukun islam yang ketiga, artinya kita telah menjalankan satu perintah dari Rabb Yang Maha Pemurah, Allah SWT.

Sebagian muslim berpikiran bahwa puasa di bulan Ramadhan merupakan sebuah rutinitas belaka. Puasa Ramadhan dijalankan selama 1 bulan sekedar diketahuinya sebagai kewajiban di setiap tahun. Ustadz Mu’inudinillah Basri (Ketua Dewan Syari’ah Kota Surakarta) mengutarakan bahwa jika semua ibadah yang dilakukan hanya sebagai rutinitas, maka rasanya akan hambar. Seakan-akan tidak ada bekas, sehingga tidak ada keistimewaan. Hal tersebut bisa dikatakan benar, yakni jika muslim yang menjalankan puasa Ramadhan tersebut melupakan esensi ibadah yang dijalankannya; hanya sekedar menahan nafsu lapar dan haus. Hal tersebut tidak akan menimbulkan bekas karena tidak adanya keistimewaan yang ditanamkan dalam hati.

Istimewa. Satu kata yang patut kita rasakan dalam menjalani ibadah, termasuk menjalankan puasa Ramadhan. Karena rutinitas identik dengan perasaan ‘biasa saja’, maka jadikan puasa Ramadhan sebagai sesuatu yang istimewa. Setiap tahunnya selalu istimewa. Mindset ‘istimewa’ yang disetting di dalam pikiran akan menimbulkan efek yang baik bagi psikis. Hal ini bisa menunjang spirit bagi fisik. Pemikiran yang baik, psikis yang sehat, dan fisik yang kuat menjadi bahan bakar dalam menjalankan ibadah istimewa tersebut.

Menyambut bulan suci Ramadhan yang sangat istimewa tentunya perlu dilakukan persiapan. Persiapan pertama adalah bertaubat kepada Allah SWT atas segala dosa yang telah diperbuat. Persiapan kedua, memahami fadilah Ramadhan, yaitu bulan dimana semua do’a yang baik tidak akan ditolak oleh Allah SWT, bulan dimana Allah memiliki SK yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya pada malam lailatur qadr, bulan dimana diturunkannya Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Persiapan ketiga, memahami falsafat Ramadhan, yaitu bahwa Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan juga puasa telinga, puasa mata, dan puasa lisan. Puasa membelajarkan kita untuk memanajemen hawa nafsu; belajar komitmen dengan batasan-batasan yang Allah tentukan.

Persiapan keempat adalah membuat target. Target akan membantu kecerdasan, keterampilan, dan kelihaian kita. Dengan adanya targetan, kita akan merencanakan hal-hal yang akan kita jalankan ke depannya dengan strategi-strategi tertentu yang sekiranya bisa kita jalankan untuk menggapai tujuan yang kita harapkan selama bulan Ramadhan.

Ini salah satu contoh formatan pembuatan targetannya:

No Target Amal Intensitas Per
1 Qiyamul Lail 1 x Setiap hari
2 Tilawah Al-Qur’an Khattam 1 x Minggu
3 Mengajar TPA
4 Solat sunah rawatib
5 Infaq/Shodaqoh
6 Membaca Siroh Nabawiyah
7 Bayar Zakat Fitrah
8 Dan seterusnya [silahkan diisi sendiri]

Pengalihan Blog

Bismillaahirrahmaanirrahiim

sekain lama blog ini tidak terisi dengan karya-karya yang segar. Ada blog baru yang akan dipaksakan untuk selalu terisi. Dengan izin Allah, Tuhan Yang Maha Romantis, semoga penulis bisa merangkai romantisme kehidupan dengan blog yang baru.

#KariaVayanti

Tujuh Maqam Keselamatan

  1. Taubat. Taubat atas zina mata, taubat atas zina telinga, taubat atas zina mulut, taubat atas kemaksiatan-kemaksiatan lainnya. Taubat bukan hanya beristighfar,melainkan berhijrah.
  2. Wara’ (berhati-hati) dengan diri sendiri. Artinya, kita harus berhati-hati menjaga hati, keimanan, dan ketaqwaan kita.
  3. Fakir (merendahkan diri) di hadapan Allah.
  4. Zuhud (mengejar akhirat). Namun, jangan membenci dunia karena dunia adalah tempat mencari amal.
  5. Hidup dengan tawakkal kepada Allah. Serahkan urusan duniawi kita karena ada Allah Yang Maha Mengatur.
  6. Jalani dengan sabar. Sabar adalah menahan diri dari dorongan hawa nafsu.
  7. Ridho. Ridho adalah menerima ketetapan yang Allah berikan. Contoh: Robiatul Munawarah.

(Catatan Kajian Muslimah Bersama Umi Pipik di Masjid Fatimah, Solo, 31 Januari 2015)

Kuingin Berikan Mahkota Pada Mereka

Aku selalu terngiang-ngiang dengan wajah kedua orang tua. Dalam doaku yang selalu kupanjatkan kepada Allah, takpernah kulupa untuk mendoakan mereka. Mereka adalah dua orang yang paling berharga dalam hidupku. Aku ingin hidup bahagia dengan mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Aku selalu memohon kepada Allah agar Dia mau memberikan kasih sayang, berkah, rahmat, dan keridhoan kepada keluargaku. Mereka adalah aset yang terindah dalam sejarah perjalanan hidupku.

selebih-lebihnya aku dengan segala kekurangan-kekurangan mereka, takkan kumampu membalas seluruh jasa-jasa yang mereka berikan. Semarah-marahnya mereka adalah untuk kebaikanku dan sebaik-baiknya mereka adalah untukku pula. Aku belajar ikhlas dan sabar dari mereka. Mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi –bahkan tidak lulus SD- kadang memang membuatku merasa iri dengan teman-teman yang memiliki orang tua lulusan sarjana. Aku memaklumi kedua orang tuaku. Justru itu, aku ingin membuat keluargaku naik derajatnya di masyarakat. Aku merindukan mereka. Aku berharap kelak di akhirat aku bisa memberikan mahkota istimewa untuk mereka berkat kesolihahanku kepada Allah swt. Aaamiin Ya Rabbal’aalamiin…

Liburan ke Lawang Sewu

Liburan memberikan waktu yang cukup senggang untuk merefresh diri. Jalan-jalan (travelling) menjadi suatu kegiatan yang selalu dilakukan oleh kebanyakan orang dalam mengisi waktu liburan. Tidak hanya menyenangkan, travelling sering memberikan pelajaran kepada para traveller untuk memahami lebih banyak tentang kehidupan, terutama dalam memahami sejarah.

tempat-tempat bersejarah memiliki keunikan tersendiri untuk ditelisik dan dikunjungi. Salah satu tujuan kami (Aku, Sasa, Desy, Rahmi, dan Khanza) –Jilbab Traveller– adalah sebuah museum yang sering disebut-sebut memiliki nuansa mistik yang terletak di Semarang, yaitu lawang sewu. Sejarah lawang sewu memang selalu dikait-kaitkan dengan hal-hal yang berbau klenik karena zaman penjajahan Jepang dulu, di tempat itulah terjadi pembantaian terhadap penduduk Indonesia.

Lawang Sewu dari luar
Lawang Sewu dari luar

Ya, sejarah itu kukatakan valid karena aku telah melihat sendiri museum tersebut. Kunjungan the jilbab traveller sebenarnya kurang tepat karena kondisi lawang sewu pada hari itu (14/1) sedang dalam masa perbaikan atau pembangunan. Namun, setidaknya kami bisa melihat secara langsung gedung tua yang bersejarah itu dan menelaah sendiri tentang sejarah yang sudah diketahui.

Lawang sewu (bahasa jawa), artinya pintu seribu. Sebenarnya jika dihitung, jumlah pintu yang ada di lawang sewu tidak mencapai seribu. Ketika sampai di tempat itu, ada hasrat untuk menghitung jumlah pintu, namun memang sangat banyak. Dan aku gagal menghitungnya. Namun, aku cukup bisa menyimpulkan bahwa jumlah pintu di lawang sewu hanya ratusan, bukan seribu. Hanya ada 3 gedung yang kami kunjungi, yaitu gedung A,B, dan C. Gedung yang paling luas adalah gedung A, disusul oleh gedung B, sedangkan gedung C adalah gedung terkecil diantara ketiganya.

Gedung A Lawang Sewu
Peta Gedung Lawang Sewu

Menurut sejarah, gedung ini tidak terlepas dari sejarah perkeretaapian di Indonesia karena dibangun sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS kantor pusat perusahaan kereta api di Indonesia. Pelaksanaan pembangunan gedung ini dimulai pada 27 Februari 1904 hingga Juli 1907. Gedung ini pada Juli 1907 digunakan sebagai kantor NIS. Tahun 1942-1945 digunakan sebagai kantor Riyuku (Jawatan Transpirtasi Jepang). Tahun 1945 menjadi kantor DKRI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia). Pada tahun 1946 saat agresi milter digunakan sebagai markas tentara Belanda. Pada tahun 1949 digunakan oleh Kodam IV Diponegoro. Sedangkan pada tahun 1994 gedung ini diserahkan kembali kepada kereta api (saat itu PERUMKA, sekarang PT. KAI). Lalu, beberapa tahun digunakan oleh Dinas Perhubungan dan kemudian pada tahun 2009 dipugar oleh PT. KAI.

Kereta Api di Lawang Sewu
Kereta Api di Lawang Sewu
Salah satu pameran di Gedung A Lawang Sewu. Semua berkaitan dengan Kereta Api
Salah satu pameran di Gedung A Lawang Sewu. Semua berkaitan dengan Kereta Api

Lalu, sejarah mana yang menghubungkan lawang sewu dengan nuansa horor? Jika kukatakan tidak horor, maka jawabanku “tidak juga” karena aku melihat sebuah ruang bawah tanah yang berisi air yang kudengar dari tour guide sebagai tempat pembantaian penduduk Indonesia oleh penjajah Jepang. Merinding, itu yang kurasakan. Sebenarnya pengunjung boleh turun dan merasakan langsung ruang bawah tanah itu, namun sedang ditutup karena dalam masa reparasi. Setidaknya, terlihat bau-bau mistis lawang sewu dari ruang bawah tanah yang bergelimang air dan gelap itu.

Rombongan pengunjung tengah melihat  ruang bawah tanah yang gelap dan berisi air setinggi lutut orang dewasa
Rombongan pengunjung tengah melihat ruang bawah tanah yang gelap dan berisi air setinggi lutut orang dewasa

Kemudian, jika kukatakan horor, maka jawabannya “tidak juga”. Ada sedikit ketidakpuasan yang kurasakan ketika melihat bangunan-bangunan lawang sewu. Renovasi gedung membuat kesan lawang sewu tidak lagi pure, sehingga mengurangi esensi sejarah yang nyata pada jaman dulu. Bahkan asumsiku hanya dijadikan background foto-foto bagi para narsisers yang doyan ngupload foto-foto terbaru. Tidak jarang muda-mudi menghabiskan waktu bercengkerama di tempat bersejarah itu.

Lorong Lawang Sewu. Biasa dijadikn background foto
Lorong Lawang Sewu. Biasa dijadikn background foto
Lorong Lawang Sewu
Lorong Lawang Sewu

Ya, pada intinya Lawang Sewu harus dilestarikan. Kalau bisa, jangan mengubah esensi kehistorisan aslinya, sehingga pengunjung bisa merasakan dan menghayati sejarah yang terjadi bertahun-tahun yang lalu di tempat itu. Pesanku: jang lupakan sejarah. Main-mainlah ke tempat-tempat bersejarah, maka kau akan merasakan perjuangan-perjuangan bangsa Indonesia zaman dahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan. Kemudian, kau akan semakin cinta pada Indonesia.

Berfoto di tengah-tengah Lawang Sewu dengan background gedung A
Berfoto di tengah-tengah Lawang Sewu dengan background gedung A

See you with next travelling 🙂

Flashback My Experience

Tak terasa kehidupanku di Solo sudah 2 tahun lebih (5 semester). Masih terngiang-ngiang dalam bayanganku tentang perjuangan untuk kuliah. Mungkin karena faktor teman-teman yang interpretasi setelah SMA langsung bekerja, aku menjadi terpengaruh. Tapi yang jelas naluriku berkata untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di sebuah universitas di luar Batam. Ketika itu kondisi begitu urgen : minimalitas akses internet dan kondisi finansial keluarga yang sedang terjepit, ditambah lagi kondisi perasaan orang tua (terutama ibu) jika anak perempuannya merantau.

Ada tangisan yang berkali-kali terjadi. Tidak hanya aku yang menangis, tapi juga ibu dan ayah. Sesungguhnya aku tidak tega, tapi keinginan hati begitu dalam. Ujian tes masuk aku ikuti degan bekal ilmu seadanya yang aku dapatkan di bangku sekolah. 3 hari menempuh ujian di pulau seberang begitu berat kulalui. Soal-soal tesnya di luar nalarku. Namun, aku paham bahwa memang seperti inilah tes yang biasa dijalani oleh orang-orang yang hendak masuk perguruan tinggi pilihan. Aku pasrah.

Tiba di hari pengumuman, aku lemas karena tidak lulus ujian. Lalu aku berkata pada ayah dan ibu: “Ijinkan aku mengikuti jalur swadana, jika aku lulus Alhamdulillah, jika aku tidak lulus, maka aku akan bekerja saja di Batam.” Ungkapku sambil bergetar dan menangis dalam hati. Aku baru tahu (ketika sudah berada di perantauan) bahwa ketika itu ibu berdoa agar aku tidak lulus jalur swadana. Beliau tidak ingin ditinggalkan olehku pergi merantau.

Qadarullah, Allah ternyata memiliki kehendak lain. Allah ingin menguji ibuku. Aku lulus melalui jalur swadana, artinya aku diterima di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Aku yakin ibu dan ayah menangis berat. Satu, tidak ada biaya untuk terbang ke Solo dan untuk biaya masuk PT itu serta sangu. Dua, berat hati kedua orang tuaku melepas kembali anaknya setelah anak pertamanya terlebih dahulu meninggalkan mereka untuk merantau dan belajar di Pulau Jawa. Ya, aku percaya bahwa kisah ini hanya permasalahan meninggalkan dan ditinggalkan dalam hal fisik, tidak pada batin.

Xxx

Hari ini, aku telah melalui perjalanan hidupku di Solo selama 2,5 tahun. Sebuah masa yang tidak sebentar karena 1 detik saja sangat berarti. Aku melakukan refleksi dan menflashback kisah perjalanan hidupku selama di kota the spirit of java ini. Setiap berkeliling di kota ini, terselip rasa bangga pada diri karena bisa berada di tempat yang budayanya masih sangat kental ini. Aku tidak hanya menikmati masa-masa kuliahku, tetapi aku menikmati sebuah kehidupan. Ya, aku katakan sekali lagi bahwa aku baru merasakan “kehidupan” ketika berada di Solo.

Fix, aku telah hidup. Hidup tak semata seperti air yang mengalir. Aku harus mampu memiliki pendirian agar tidak terombang-ambing. Nyatanya, aku telah mengalami masa ombang-ambing itu, ketika aku berada di lingkungan teman-teman yang terkategori alim, aku mampu menjadi sosok yang berusaha alim dan terlihat alim. Namun, ketika berada di lingkungan teman-teman yang terkategori biasa saja dalam urusan ibadah, kemudian aku pun ikut biasa saja. Bersyukurnya aku pun mengenal orang-orang yang terkategori hebat karena karya-karya dan prestasi yang telah mereka raih. Semoga aku pun bisa ketularan mereka.

Kehidupan kuliahku tak selurus organisasiku. Aku mengikuti sebuah organisasi lembaga dakwah kampus, sebuah organisasi yang berbau islami. Tentu esensi dari organisasi itu adalah melakukan dakwah, menyebarkan syiar islam seluas-luasnya di penjuru kampus dan masyarakat umum. Beragam kegiatan dalam kepanitian kulalui berkali-kali. Biasanya aku berada di sie publikasi dan humas, bidang yang kudalami di organisasi tersebut. Di bidang itu, aku belajar banyak hal: bagaimana melalukan hubungan dengan pihak-pihak terkait yang mampu mensukseskan acara, bagaimana melakukan publikasi seluas-luasnya melalui beragam sosial media, mulai dari facebook, twitter, BBM, whatsapp, SMS Gateway, hingga tumblr dan instagram. Beragam masalah pun sering kudapati. Sering sekali muncul statement seperti ini : “Kenapa peserta acaranya begitu sedikit? Ini pasti publikasinya kurang.” Sedangkan masalah-masalah dalam bidang humas tentu lebih luas daripada bidang publikasi.

Hubungan berkaitan dengan komunikasi. Dimana-mana, di berbagai organisasi selalu yang menjadi masalah utama adalah masalah komunikasi. Ketidakberjalanan komunikasi akan membuat masalah karena tidak ada koordinasi, sehingga dalam sebuah acara atau agenda sering ditemui adanya dispersepsi yang menyebabkan kejanggalan dalam mensukseskannya. Belum lagi percekcokan yang akan muncul ketika pihak-pihak tertentu tidak welcome dengan tawaran kerjasama yang kita bentuk. Atau hubungan dengan pihak rektorat yang tidak diladeni sebaik mungkin oleh pihak birokrasi. Atau hubungan dengan organisasi-organisasi lain yang sudah diberi undangan berkali-kali, namun tidak pernah ikut hadir dalam agenda yang kita adakan. Ya, begitulah masalah-masalah yang muncul dalam kehumasan. Memang tidak mudah, namun begitulah yang terjadi. Ini baru di organisasi kampus, belum lagi di organisasi masyarakat. So, kampus menjadi wadah untuk kita bisa kebal dalam menghadapi masalah, sehingga ketika masalah itu datang ketika kita berada di masyarakat, kita tidak akan kaget dan langsung stress berat. Tentu karena sudah membawa bekal ketika berada di kampus.

Kembali lagi pada kehidupan kuliah. Sibuk beroganisasi biasanya membuat kuliah keteteran. Kukatakan iya, tetapi tidak juga. Menurutku, kuliah yang keteteran ketika menjalankan organisasi biasa dialami oleh ketua umum organisasi itu sendiri. Karena banyaknya agenda yang harus diikuti, maka waktu, tenaga, pikiran harus dikorbankan untuk itu. Aku pribadi memaklumi ketua-ketua umum di berbagai organisasi di kampus sering memperpanjang masa kuliahnya. Namun dengan catatan bahwa mereka mampu mendapatkan banyak pelajaran dari kisah menjadi ketua umum, artinya walaupun mereka tidak mendapatkan ilmu di bangku kuliah karena sering bolos, namun mereka mendapatkan pelajaran dan pengalaman dari organisasi yang mewadahinya.

Posisiku di sebuah organisasi memang tidak begitu urgen. Jika kuistilahka dalam sebuah perusahaan, maka aku berposisi sebagai middle manager. Kegiatanku tak sepadat top manager tentunya, sehingga aku bisa membagi waktu, pikiran, dan tenagaku antara organisasi dengan kuliah. Namun sayang, taksemulus yang kubayangkan. Kehidupan kuliahku sontak tidak selancar yang kubayangkan. Aku dilanda kemalasan dan kebosanan serta ketidaknyamanan. Hal ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari faktor berorganisasi, faktor lingkungan pengajar (dosen), faktor lingkungan sejawat (teman-teman), dan faktor mata kuliah. Namun, semua faktor-faktor itu bersumber dari 1 faktor, yaitu faktor kegigihan diri. Ya, aku mengalami fluktuasi semangat ketika menjalani kuliah di kampusku tercinta ini. Sempat berpikiran ingin pindah jurusan, sama seperti pemikiran-pemikiran mahasiswa-mahasiswa lain yang merasakan bosan dengan kehidupan kuliahnya. Namun, aku berpikir ulang. “Tidak mudah!” pikirku. Kemudian, aku bertekad untuk kuat di jalan yang telah Allah takdirkan untukku ini. Bersambung…..

Beasiswa Data Print Tahun 2014

Program beasiswa DataPrint telah memasuki tahun keempat. Setelah sukses mengadakan program beasiswa di tahun 2011 hingga 2013, maka DataPrint kembali membuat program beasiswa bagi penggunanya yang berstatus pelajar dan mahasiswa.  Hingga saat ini lebih dari 1000 beasiswa telah diberikan bagi penggunanya.

Di tahun 2014 sebanyak 700 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.  Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.

Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi, segera daftarkan diri kamu, klik kolom PENDAFTARAN pada web ini!

Pendaftaran periode 1 : 7 Februari – 30 Juni 2014

Pengumuman                : 10 Juli 2014

Pendaftaran periode 2   : 1 Juli – 31 Desember 2014

Pengumuman                : 12 Januari 2015

PERIODE

JUMLAH PENERIMA BEASISWA

@ Rp 1.000.000 @ Rp 500.000 @ Rp 250.000
Periode 1

50 orang

50 orang

250 orang

Periode 2

50 orang

50 orang

250 orang

Info lebih lanjut : http://www.beasiswadataprint.com